Narkozone.. Banyak sekali pria yang merasa keberatan bila istrinya bekerja. Alasannya bisa bermacam-macam. Seringkali alasan tersebut memang ‘bisa diterima’, tetapi seringkali alasan tersebut bersifat psikologis yang seringkali sulit diterima oleh akal sehat. Sebagai peringatan awal nih, saya sebagai penulis sampai saat ini masih berstatus belum menikah..wekwkew….
Perlukah seorang istri itu bekerja?? Ini nih pertimbangannya:
1. Keinginan istri
Ini nih faktor pertama yang harus dilihat. Anda tanyain dulu si istri Anda itu pengen bekerja atau tidak. Karena karakter tiap wanita berbeda. Ada yang suka kesibukan, ada yang suka kalau nyantai di rumah, ada yang suka kesibukan tapi tidak membebani,dan lain-lain… Untuk istri tipe pertama mungkin alasan bekerja dari sang istri karena selama ini si istri merasa tidak enak terus menerus ‘dijatah’ dari suami, sehingga ia merasa lebih leluasa bila ‘uang sakunya’ didapat dari penghasilannya sendiri karena ia bekerja. Atau tipe istri yang ke dua yang lebih suka di rumah merawat anak dan rumah, itung-itung bagi kerjaan lah sama suami. Tapi kalo suami pulag kerja masih juga berantakan, kayanya maih dipertanyakan tuh niatnya..wekwkekw…
2. Faktor ekonomi
Kalau yang ini apa lagi yang dimaksud kalo bukan penghasilah suami cukup gak untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekarang dan masa depan?? Kenapa sekarang dan masa depan?? Jawabannya karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin saja penghasilan suami cukup untuk memnuhi kebutuhan keluarga, tapi tidak cukup banyak untuk cadangan jika terjadi apa-apa yang gak kita inginkan.
Bertambahnya penghasilan keluarga sudah jelas, bahwa dengan istri Anda bekerja, penghasilan dalam keluarga Anda jelas akan bertambah. Bagi banyak keluarga yang lain, banyak istri yang bekerja juga ikut andil dalam membayar pengeluaran-pengeluaran keluarga. Mungkin suami meng-cover 50%, si istri juga 50%. Tetapi banyak juga istri (bekerja) yang lain, yang tidak ikut meng-cover pengeluaran keluarga. Artinya, uang suami adalah uang istri, tetapi sebaliknya uang istri bukan uang suami dan hanya menjadi milik istrinya sendiri. haha.. ini namanya menang sendiri.. tapi ya itulah yang ada.. :p
Keluarga yang memiliki dua penghasilan – tentu saja – akan memiliki jumlah pendapatan yang lebih besar. Tetapi konsekuensinya akan lebih banyak hal baru yang harus dipikirkan oleh orang tua tersebut, seperti masalah baby sitter atau masalah-masalah lain yang akan sering muncul karena meninggalkan anak di rumah, sehingga disini, biaya bidup biasanya akan menjadi lebih besar.
Suami istri tentu punya sejumlah alasan untuk lebih memilih memiliki dua penghasilan daripada satu penghasilan. Tetapi satu hal yang harus disadari adalah: apakah dengan sama-sama bekerja akan menjawab permasalahan keuangan yang muncul? Atau benar bisa menjawab tapi muncul lebih banyak lagi masalah di luar masalah keuangan.. udah tau sendiri kan???
3. Faktor non ekonomi
Kadang-kadang, keputusan untuk memiliki dua penghasilan tidak selalu didasarkan pada alasan ekonomi. Di Indonesia dan di banyak negara lain, Biaya Hidup keluarga biasanya ditanggung oleh pria – dalam hal ini suami. Ini membuat pasangannya – si istri – muncul keinginannya untuk bekerja dengan tidak mendasarkannya pada kebutuhan untuk mendapatkan materi, tetapi – mungkin – untuk mengisi waktu, untuk kesenangan, atau hal-hal lain di luar faktor ekonomi.
Bila memang demikian, boleh-boleh saja. Mungkin saja pekerjaan si istri memberikan kepuasan batin baginya. Mungkin saja pekerjaan tersebut membuat intelektualitas istri Anda tergali. Mungkin saja istri Anda bekerja hanya karena ingin bersosialisasi, mengisi waktu, atau karena pekerjaan itu sangat menyenangkan. Bila memang alasan-alasan ini yang muncul, maka bisa saja faktor ekonomi dinomorduakan.
Saran
Bagi Anda para suami yang selama ini keberatan bila istri Anda bekerja, coba pikirkan lagi apa alasan keberatan Anda tersebut. Pertimbangkan alasan tersebut dari segi ekonomi dan non ekonomi. Kalau memang alasan Anda tersebut adalah non ekonomi, pikirkan lagi apakah alasan tersebut memang bisa diterima akal sehat atau tidak.
Kalau memang alasan non ekonomi tersebut memang bisa diterima akal sehat, mungkin memang sudah seharusnya istri Anda tidak bekerja. Tetapi kalau alasan non ekonomi tersebut ‘sulit’ diterima akal sehat atau malah terkesan mengada-ada, maka pikirkan lagi alasan Anda tersebut. Saran saya untuk Anda para suami : pertimbangkan alasan Anda secara obyektif, dan berikan keputusan yang terbaik untuk istri Anda.
Sebagai kesimpulannya, keadaan keluarga secara keseluruhan adalah faktor penting dalam menentukan seorang istri perlu bekerja atau tidak. Diskusikan dengan pasangan Anda langkah apa yang sebaiknya diambil. Yang sekali lagi menurut saya, utamakan kepentingan keluarga dan kasih sayang terhadap anak karena anak adalah masa depan. Jadi sok tua..hehe.. Saya di sini hanya bisa memberikan sedikit pertimbangan dari “seorang yang belum menikah” untuk anda yang sudah atau akan menikah..
- semoga bermanfaat -
Aku asline pingine gak kerja mas,, dalam bayanganku aku pingin kaya ibuku,,, bener-bener fokus sama rumah bangeetz..
Yakpa ya ntar? moga yang terbaik ajah… amiin
gak kerjo gpp, tapi siap2 dadi 100% ibu rumah tangga.. :p
setuja ko…
ada wanita yang emang pengen kerja dan ada yang pengen jadi ibu rmh tangga. yang paling penting sih buat laki2 nih, jangan memaksa, kita ikuti aja lah kemauan istri. yang penting g neko2 g masalah lah….
ehm…..kalau saya bekerja atas dasar ridho suami
Alhamdulillah… bekerjanya pun di bidang pendidikan dan penulisan, yang kata suami sy cucok lah ntar anaknya bisa diajarin…
trus tujuan sy bekerja? ibadah (berkontribusi kpd sesama)…..ya gimana2 stiap manusia kan butuh “ruang” tersendiri termasuk wanita yg sudah menikah, di mana di “ruang” tersebut seorang istri bisa bebas (dlm artian positif lho) mengembangkan bakat yg dimilikinya…..karena wanita adalah mutiara yg dapat menyinari benda2 di sekelilingnya
… oya, bekerja kan tidak harus di luar rumah, di mana saja asal suami ikhlas tetap bisa berkarya….
tulisan yg bagus